Editors Picks

Monday, August 28, 2017

Kasih Tidak Selalu Memberi

Pengalaman sebagai orang tua mengajarkan kita bahwa kasih tidak selalu memberi, kadang kita menahan pemberian walau kita tahu bahwa hal itu baik bagi anak kita.
Jason (3,5 tahun) suka sekali menonton Barney. Kami sebagai orang tua senang karena banyak hal yang baik diajarkan dalam film ini, namun sering kali ketika film habis, ia berkata, “More …. More…. More….” Sambil menangis untuk meminta agar saya memutarkan film Barney yang lain. Kalau kami menuruti keinginanannya maka setelah film kedua, ia akan meminta film ketiga, dst. Ketika dituruti keinginannya maka Jason bisa seharian menonton film tanpa berhenti. Kami harus berkata, “No Jason, enough just one movie” dan membiarkan ia menangis karena keinginannya tidak dipenuhi.
Kadang kala kami juga harus membatasi jumlah buku yang ingin dibaca Jason. Setiap malam kami membacakan buku-buku untuk Jason dan kalau dituruti Ia bisa meminta kami membacakan 10 buku atau lebih, kalau kami berhenti pada buku kelima, ia akan menangis meminta membacakan sampai buku terakhir. Kami sangat senang Jason mau membaca buku, hal ini baik baginya tapi kalau harus tiap malam membaca semua buku yang dipinjam dari perpustakaan kami rasa hal ini tidak baik. Yang kami lakukan adalah membatasi dan memberitahu Jason bahwa kami hanya akan membacakan 3-5 buku, dan meminta ia memilih buku yang mau dibacakan, setelah membacakan semuanya kami akan berhenti dan walau ia menangis kami tidak menuruti keinginananya.
Orang tua mana yang tidak suka anaknya membaca buku, kebanyakan anak tidak akan tahan duduk lama untuk membaca buku, tapi Jason bisa duduk tenang membaca buku sampai semua bukunya habis. Kadang kami harus membatasi hanya membaca 1-2 buku karena sudah larut malam dan membiarkan ia menangis setelah itu karena kami berpikir bahwa tidak baik terlalu banyak membaca buku. Segala sesuatu yang baik tetapi berlebihan maka hal itu berdampak tidak baik. Kurang garam, makanan tidak enak, kelebihan garam juga tidak enak, kebanyakan garam berbahaya bagi tubuh.
Sama halnya dengan Tuhan, kadang Ia membiarkan kita tidak mendapatkan yang kita inginkan walau kita tahu hal itu baik. Kadang kita ngotot akan hal tersebut, misalnya Tuhan kenapa Tuhan tidak mengangkat penyakit saya, bukankah kalau saya sehat hal itu baik bagi pekerjaan Tuhan. Kalau saya sering sakit, saya tidak dapat belajar, tidak dapat bekerja, performance kerja saya menurun, kenapa Tuhan engkau tidak mau mengangkat penyakit saya?
Atau, Tuhan saya sudah berumur 35 tahun, setiap malam saya berdoa selama 15 tahun untuk mendapat pasangan hidup, bukankah Kejadian 2 mengajarkan bahwa tidak baik manusia seorang diri saja, kenapa Tuhan belum memberikan saya pacar satu pun?
Atau, Tuhan kenapa engkau tidak menjawab doa saya, sudah 3 tahun saya berdoa tiap hari, besok orang tua saya akan menandatangani surat cerai dan papa dan mama akan resmi berpisah, bukankah Engkau tidak menginginkan perceraian.
Alkitab mengajarkan kita untuk tekun berdoa, tetapi kita juga harus tahu kapan harus berhenti meminta. Paulus 3 kali meminta Tuhan untuk mengangkat duri dalam daging dan kemudian Paulus berhenti meminta hal itu lagi dan belajar menerima bahwa Tuhan tidak mengabulkan permintaannya.

Hal ini bukan berarti kita tidak tekun berdoa, gampang menyerah dalam berdoa, namun ada dimensi lain di mana kita belajar mengerti hati Tuhan dan menyadari bahwa kadang kasih Tuhan tidak selalu mengabulkan apa yang baik dalam permintaan doa kita. Paulus akhirnya menyadari bahwa Tuhan tidak mengabulkan permintaan mencabut duri dalam daging karena ia belajar bahwa di dalam kelemahannya kuasa Tuhan nyata. Karena kasih, Tuhan tidak menjawab doa Paulus karena kasih tidak selalu memberi.